Kebetulan……Kenyataan
Adalah kebetulan aku bisa menemukan nomor handphoneku ini dengan empat digit terakhir menyatakan tanggal dan bulan kelahiranku.
Adalah kenyataan, bahwa kemudian aku langsung mendapatkan SMS yang membuatku merinding.
SMS yang datang setiap hari.
SMS yang sudah berkali-kali aku balas, tanpa dipedulikan sang pengirim.
SMS yang diakhiri dengan kata-kata: “Maaf, kakak terlambat menjemputmu dan kau tidak bisa pulang ke rumah lagi. Semoga kau bahagia di atas sana dan Tuhan menjagamu”.
SMS yang membuatku merasa, adalah kebetulan nomor yang kumiliki dulunya milik seseorang yang kini telah tiada, ataukah itu adalah kenyataan yang harus kuterima?
Adalah kebetulan, saat kudapatkan nomor handphoneku ini, aku bertemu dengan seseorang yang tak akan kulupakan sepanjang hidupku.
Adalah kenyataan, bahwa bila kemudian orang itu kukagumi diam-diam dan kutunggu-tunggu kehadirannya tiap hari.
Bila saja kebetulan dia bisa berdiri disampingku dan berbicara denganku.
Namun kenyataan membuat dia selalu ada disana….jauh dariku
Kebetulan yang diharapkan beserta keinginan dan usaha membuahkan kesempatan.
Kenyataan yang kudapat saat dia ada disampingku.
Saat hendak kusapa dirinya, terganggu bunyi SMS, terdorong orang, ku menjauh darinya.
Saat kubaca SMS yang mengganggu, SMS yang menghantuiku sejak pertama.
Kesal, geram, penuh rasa benci, kuhubungi nomor itu
“Kau mengacaukan segalanya”.
Terdengar helaan nafas diujung sana.
“Maaf”
Lirih kata itu terdengar hingga hampir tak terdengar.
Kulirik dirinya yang kini terpisah dariku dengan wajah sedih yang tak terperikan.
Sebuah rasa tak percaya, sebuah pikiran yang tak pernah terduga hadir dalam diriku saat menatapnya.
Akankah ini sebuah cerita yang terlalu indah yang ingin kupercayai atau sebuah kebetulan belaka yang selalu kuharap terjadi?
Kuhubungi lagi nomor itu, kuberjalan kearahnya, kuberharap kebetulan adalah kenyataan.
Dan kenyataan ketika kudengar suaranya bergema dari handphoneku dan mulutnya, maka kebetulan adalah kenyataan…..
“Maaf, itu dulu nomor adikku….”
“Tak apa…..kirimlah apapun yang ingin kau kirim. Tapi balaslah apa yang kubalas”
Dia tersenyum tipis.
“Hanya saja…aku tak bisa membalas pesan yang tidak kutahu siapa pengirimnya….”
Adalah kebetulan jantungku berdetak seirama dengan miliknya…
Adalah kenyataan bila kebetulan itu yang kuharapkan…..
October 29th, 2007 at 6:07 pm
Yuhuuuu Dian.!
Pa kabar!
Cerpen nih yeeee
Hiihihihi jadi inget pas jaman-jaman kuliah dulu, kalo lagi bosen, kan kita ngiderin kertas buat bikin cerpen yang sambung menyambung tapi selalu ga nyambung. Hahaha
October 30th, 2007 at 7:49 pm
dian… gw pikir ini kisah asli
lo yang lo alamin sendiri….
dodol ya gw???
tapi lama2 gw pikir…
akh, kayaknya cerpen deh…
heuehuehuehue..
polos banget gw jadi org!!!